Di awal tahun 2026, industri film Indonesia kembali diramaikan oleh gelombang remake film horor. Dari remake “Munafik” yang asalnya dari Malaysia hingga adaptasi ulang “Shutter” versi lokal, tren ini memicu perdebatan sengit di kalangan pecinta film. Apakah remake film horor Indonesia 2026 benar-benar membawa inovasi baru, atau hanya mengandalkan sensasi untuk meraup untung? Pertanyaan ini semakin relevan mengingat box office yang terus memecah rekor, sementara kritik dari penonton skeptis tak henti-hentinya muncul.
Tahun lalu, film horor Indonesia seperti “Alas Roban” berhasil menembus 1 juta penonton hanya dalam waktu singkat, membuktikan bahwa genre ini tetap menjadi primadona. Namun, ketika remake horor terbaru mulai bermunculan, kontroversi industri film lokal tak terhindarkan. Beberapa sutradara seperti Joko Anwar, yang dikenal dengan karya-karyanya seperti “Pengabdi Setan”, sering disebut sebagai pionir dalam membawa elemen segar ke genre ini. Tapi, apakah remake tahun ini ikut serta dalam gelombang inovasi, atau justru terjebak dalam pola lama?
Latar Belakang Tren Remake Horor di Indonesia
Remake film horor bukan hal baru di Indonesia. Sejak “Pengabdi Setan” di-remake pada 2017 oleh Joko Anwar, tren ini telah menjadi strategi andalan produser untuk memanfaatkan nostalgia penonton. Versi asli “Pengabdi Setan” dari 1980 dikenal sebagai salah satu film horor klasik yang menakutkan generasi lama dengan elemen mistis lokal. Remake-nya berhasil meraup lebih dari 4 juta penonton, tapi juga menuai kritik karena dianggap terlalu mengandalkan jumpscare daripada cerita mendalam.
Masuk ke 2026, remake horor terbaru seperti “Munafik” versi Indonesia yang dibintangi Arya Saloka dan Acha Septriasa menjadi sorotan. Film ini diadaptasi dari horor Malaysia yang sukses pada 2016, dengan penambahan nuansa lokal seperti elemen keagamaan dan budaya Jawa. Produser mengklaim bahwa remake ini bukan sekadar salinan, melainkan inovasi dengan pesan iman yang lebih relevan untuk masyarakat Indonesia saat ini. Namun, gosip hiburan Januari 2026 menyebutkan bahwa pemilihan cast lebih didasarkan pada popularitas daripada kemampuan akting, memicu tudingan bahwa ini hanya modal sensasi untuk box office.
Sementara itu, “Shutter” remake Indonesia, yang terinspirasi dari film Thailand 2004, menjanjikan teror fotografi hantu dengan sentuhan teknologi modern seperti AI dan media sosial. Trailer-nya yang dirilis awal Januari telah viral di platform seperti TikTok, dengan jutaan views. Tapi, apakah ini inovasi? Atau hanya memanfaatkan tren digital untuk menarik penonton muda?
Data dari box office Indonesia menunjukkan bahwa film horor mendominasi pasar. Pada Januari 2026 saja, “Alas Roban” telah meraup dampak box office Indonesia yang signifikan, dengan pendapatan mencapai miliaran rupiah. Ini membuat produser semakin berani berinvestasi di remake, tapi juga menimbulkan pertanyaan: apakah kualitas cerita dikorbankan demi keuntungan komersial?
Argumen Pro: Remake sebagai Inovasi Baru
Pendukung remake film horor Indonesia 2026 berargumen bahwa tren ini membawa inovasi segar ke industri film lokal. Ambil contoh “Munafik” remake. Sutradara Indonesia menambahkan elemen lokal seperti ritual tolak bala dan pengaruh budaya Sunda, yang tidak ada di versi asli. Ini bukan hanya sensasi, tapi upaya untuk membuat cerita lebih relatable bagi penonton Indonesia usia 20-40 tahun, yang sering skeptis terhadap horor impor.
Joko Anwar, dalam wawancaranya baru-baru ini, menyebut bahwa horor adalah genre paling jujur karena langsung menyentuh ketakutan primal manusia. Remake seperti ini, katanya, memungkinkan eksplorasi tema kontemporer seperti radikalisme agama atau dampak pandemi, yang dibalut dalam kemasan mistis. Kritik remake Pengabdi Setan di masa lalu justru menjadi pelajaran; versi 2017 berhasil menggabungkan elemen klasik dengan sinematografi modern, menghasilkan film yang tidak hanya menakutkan tapi juga mendalam.
Selain itu, remake horor terbaru berkontribusi pada ekonomi kreatif. Dampak box office Indonesia dari film-film ini menciptakan lapangan kerja bagi ribuan kru, dari aktor hingga editor efek visual. Di era streaming seperti Netflix, remake ini juga membuka pintu ekspor budaya Indonesia ke pasar global. Bayangkan jika “Shutter” versi lokal sukses seperti “Train to Busan” remake Hollywood – itu bisa menjadi inovasi baru yang membanggakan.
Argumen Kontra: Hanya Modal Sensasi Tanpa Substansi
Di sisi lain, kritik remake Pengabdi Setan dan remake horor terbaru semakin lantang. Banyak yang menilai bahwa remake film horor Indonesia 2026 hanyalah cara cepat untuk meraup untung tanpa usaha kreatif. Gosip hiburan Januari 2026 penuh dengan tudingan bahwa produser seperti MD Pictures lebih fokus pada marketing viral daripada pengembangan skenario. Misalnya, trailer “Munafik” remake dipenuhi jumpscare murahan, mirip kritik yang pernah dialamatkan pada “Pengabdi Setan 2: Communion” tahun 2022, di mana penonton merasa endingnya terlalu dipaksakan untuk sekuel.
Kontroversi industri film lokal juga menyoroti isu plagiarisme budaya. Mengadaptasi “Shutter” dari Thailand dianggap sebagai kurangnya orisinalitas, apalagi ketika elemen horor Indonesia seperti pocong atau kuntilanak justru diabaikan demi tren internasional. Penonton skeptis, terutama penggemar genre horor usia 20-40, sering mengeluh di forum seperti Reddit bahwa remake ini lebih mirip “cash grab” daripada inovasi. Sebuah thread di r/AsianCinema menyebut bahwa gelombang horor Indonesia 2026 terasa repetitif, dengan tema ritual dan hantu yang sama berulang kali.
Lebih parah lagi, dampak box office Indonesia yang tinggi justru mendorong produksi massal. Tahun ini saja, ada lebih dari 50 film horor dirilis, tapi hanya sedikit yang mendapat pujian kritis. Kritik remake Pengabdi Setan dari 2017, seperti yang disebutkan di situs seperti ScreenAnarchy, menyoroti bagaimana remake sering mengikuti formula James Wan dengan set-up jumpscare yang predictable, bukan membangun ketegangan psikologis.
Studi Kasus: Remake “Munafik” dan “Shutter” di 2026
Mari kita telisik lebih dalam dua remake horor terbaru yang menjadi pusat kontroversi. Pertama, “Munafik” remake Indonesia. Film ini menceritakan seorang ustadz yang menghadapi setan dalam bentuk manusia, dengan twist lokal seperti penggunaan ayat-ayat Al-Quran yang dikaitkan dengan isu sosial kontemporer. Pendukungnya bilang ini inovasi karena menyentuh tema iman di tengah maraknya hoaks media sosial. Tapi, kritik datang dari komunitas film Malaysia yang merasa elemen asli dicuri tanpa kredit layak. Di X (dulu Twitter), tagar #MunafikRemake menuai perdebatan, dengan netizen Indonesia membela bahwa ini adaptasi budaya, sementara yang lain menuduhnya sebagai sensasi murahan.
Kedua, “Shutter” remake. Versi Indonesia menambahkan elemen VR dan ghost hunting via app, yang terdengar inovatif. Namun, trailer-nya yang penuh gosip hiburan Januari 2026 tentang cast kontroversial membuat penonton curiga. Apakah ini benar-benar baru, atau hanya memanfaatkan nostalgia film Thailand untuk box office? Bandingkan dengan kritik remake Pengabdi Setan, di mana Joko Anwar berhasil karena tetap setia pada akar horor Indonesia. Di sini, “Shutter” dianggap terlalu Hollywood-ized, kehilangan esensi lokal.
Dari kedua kasus, terlihat bahwa kontroversi industri film lokal sering muncul ketika remake gagal menyeimbangkan komersialisme dengan kualitas. Data dari Netflix menunjukkan bahwa film horor Indonesia seperti “Satan’s Slaves” (remake Pengabdi Setan) sukses global karena inovasi, bukan sensasi semata.
Dampak Jangka Panjang pada Industri Film Indonesia
Kontroversi remake film horor Indonesia 2026 tak hanya memengaruhi box office, tapi juga masa depan industri. Di satu sisi, sukses komersial seperti “Alas Roban” yang tembus 1 juta penonton mendorong investasi lebih besar. Ini bisa membuka peluang bagi sutradara muda untuk bereksperimen dengan genre hybrid, seperti horor-komedi atau horor-sci-fi.
Namun, jika tren ini terus mengandalkan sensasi, risiko kejenuhan pasar tinggi. Penonton usia 20-40, yang merupakan target utama, semakin cerdas dan skeptis. Mereka ingin analisis mendalam, bukan jumpscare berulang. Gosip hiburan Januari 2026 juga menyebutkan potensi boikot jika remake terus dianggap plagiat. Untuk maju, industri perlu lebih fokus pada orisinalitas, seperti yang dilakukan Joko Anwar dengan proyek barunya “Ghost in the Cell”.
Kesimpulan: Sensasi atau Inovasi? Tergantung Eksekusi
Pada akhirnya, remake film horor Indonesia 2026 bisa menjadi inovasi baru jika dieksekusi dengan hati. Kritik remake Pengabdi Setan membuktikan bahwa nostalgia bisa dikombinasikan dengan elemen modern untuk hasil memuaskan. Tapi, jika hanya modal sensasi, dampak box office Indonesia mungkin sementara, sementara reputasi industri rusak jangka panjang.
Bagi pecinta film horor yang skeptis tapi penasaran, saran saya: tonton dengan mata kritis. Apakah cerita menyentuh ketakutan asli kita, atau hanya trik murahan? Tren ini bisa menjadi turning point bagi perfilman nasional, asal produser mendengar suara penonton.



